
Oleh : Ahmad Laili Anwari
Memasuki usia ke-80 tahun Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seluruh elemen bangsa mulai dari pemerintah, petani, nelayan, hingga rakyat biasa turut merayakan dengan mengibarkan bendera Merah Putih di berbagai penjuru negeri. Dari jalan-jalan kampung, atas kapal nelayan, hingga di depan rumah-rumah rakyat, bendera suci itu dijunjung tinggi sebagai lambang cinta tanah air dan penghormatan kepada para pahlawan.
Namun, di tengah gegap gempita perayaan, muncul pula fenomena lain yang viral di media sosial, pengibaran bendera Merah Putih yang disandingkan bahkan digantikan dengan bendera lain, seperti bendera bajak laut One Piece. Fenomena ini bukan sekedar ekspresi estetika, melainkan simbol kekecewaan yang mendalam. Kekecewaan atas negara yang dianggap “mati” dalam keadilan dan hukum, di mana korupsi merajalela, ketimpangan terus membengkak, dan rakyat dicekik pajak yang tak berpihak.
Sebagian besar rakyat menganggap bahwa bendera Merah Putih terlalu suci untuk dikibarkan di atas negeri yang kehilangan hati nurani. Sebaliknya, mereka memilih bendera merah hitam simbol perlawanan tanpa kekerasan, sebagai penanda keresahan terhadap sistem yang tak lagi membela wong cilik.
Namun tak semua yang menyandingkan bendera Merah Putih dengan bendera lain melakukannya dalam nada protes. Dari kalangan Nahdliyyin, kita menyaksikan pengibaran Merah Putih yang diiringi bendera Nahdlatul Ulama, bukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan refleksi sejarah yang tak boleh dilupakan. Seperti pesan Bung Karno “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
”Negeri ini lahir dari darah dan doa para kiai, santri, dan pejuang NU yang jurang segalanya demi satu kata MERDEKA Dari resolusi jihad hingga perjuangan melawan kolonialisme, NU menjadi tembok pertama dan terakhir dalam mempertahankan kemerdekaan, budaya, dan nilai kebangsaan. Oleh karena itu, menyandingkan bendera Merah Putih dengan bendera NU adalah bentuk edukasi dan pengingat bahwa kekuatan ruhani dan kebangsaan Indonesia tak bisa disingkirkan.
Kita, generasi bangsa, tak lagi perlu mengangkat senjata. Tetapi pengabdian kepada bangsa dan leluhur tetap menjadi tugas utama, dengan menuntut ilmu, merawat tradisi, memperjuangkan keadilan, dan menjaga nasionalisme yang utuh.
Selamat memasuki Hari Lahir ke-80 Negara Kesatuan Republik Indonesia.Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.Semoga negeri ini segera pulih dari luka-luka sosial dan ketimpangan yang masih menganga. Dan semoga Merah Putih tetap tegak bukan hanya di tiang, tapi juga di hati rakyatnya.
No Comments