Menjembatani Tradisi NU dan Dunia Gen Z

5 minutes reading
Tuesday, 27 Oct 2026 05:25 0 21 Media NU Palengaan

Oleh: Ahmad Wiyono
Warga NU Madura

Pasca dilantik, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) langsung tancap gas menyusun gagasan dan terobosan strategis untuk menjawab tantangan zaman. Salah satu agenda yang menarik perhatian ialah upaya merangkul generasi Z melalui program Jejak Muda NU, Jejak Rantau, pengembangan keterampilan santri, serta penguatan dakwah digital. Gagasan yang digagas Ketua PBNU Bidang Digital Native dan Diaspora, Teguh Dartanto, ini bukan sekadar respons terhadap tren, melainkan ikhtiar membangun jembatan antara tradisi keagamaan dan kehidupan generasi muda.

Perubahan zaman tidak pernah menunggu kesiapan organisasi. Ketika generasi muda tumbuh bersama internet, media sosial, dan arus informasi yang bergerak cepat, NU dituntut meninjau kembali cara berkomunikasi, mendidik, serta membangun kedekatan dengan warganya. Tantangannya bukan mengubah identitas NU agar menyerupai generasi Z, melainkan menghadirkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dengan bahasa, pendekatan, dan ruang perjumpaan yang relevan bagi kehidupan mereka.

NU memiliki kekuatan yang tidak kecil: tradisi pesantren, sanad keilmuan, keteladanan kiai, jaringan pendidikan, serta akar sosial yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Namun, kekuatan historis tersebut tidak otomatis menjamin kedekatan dengan generasi berikutnya. Tradisi yang tidak dikomunikasikan secara kreatif berisiko hanya menjadi warisan yang dihormati, tetapi semakin jauh dari pengalaman keseharian anak muda.

Dalam Reinventing Indonesia, Yudi Latif menekankan pentingnya membangun kehidupan yang berpijak pada nilai-nilai dasar sekaligus mampu menjawab tantangan zaman. Gagasan ini relevan bagi NU: menjaga akar tradisi sembari membuka jalan pembaruan. Organisasi yang ingin bertahan lintas generasi tidak cukup mewariskan identitas, tetapi harus membuat identitas itu bermakna bagi masa depan.

Program Jejak Muda NU dapat menjadi pintu masuk untuk memperlihatkan wajah Nahdliyin yang beragam dan progresif. Kisah anak muda NU yang berprestasi dalam ilmu pengetahuan, kewirausahaan, profesi, seni, maupun ruang publik menunjukkan bahwa identitas keislaman tidak membatasi kreativitas dan pencapaian. Sebaliknya, nilai pesantren dan lingkungan keluarga dapat menjadi bekal moral untuk berkompetisi, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Jejak Rantau membuka perspektif bahwa jejaring NU tidak berhenti di batas geografis. Anak muda yang menempuh pendidikan, bekerja secara profesional, atau menjadi pekerja migran di luar negeri merupakan sumber pengalaman, pengetahuan, dan peluang kolaborasi. Hubungan dengan diaspora perlu dirawat agar mereka tetap terhubung dengan komunitas asal sekaligus berkontribusi melalui jejaring, gagasan, dan keahlian yang dimiliki.

Agenda tersebut harus dilengkapi pengembangan keterampilan santri. Pesantren tetap menjadi ruang pembentukan akhlak dan pendalaman ilmu agama, tetapi juga perlu memperluas akses terhadap literasi digital, bahasa asing, kewirausahaan, literasi keuangan, dan keterampilan profesional. Pendidikan agama dan kecakapan modern bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya dapat melahirkan generasi berilmu, berkarakter, mandiri, serta mampu menghadapi perubahan dunia kerja.

Di bidang komunikasi, dakwah digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Kebiasaan Gen Z mengonsumsi informasi melalui video pendek dan berbagai platform media sosial menuntut penyampaian pesan yang ringkas, visual, dan kontekstual. Konten dakwah berdurasi satu hingga dua menit di TikTok, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai keislaman dan tradisi NU. Namun, mengikuti format populer tidak boleh mengorbankan ketepatan dalil, kedalaman pemahaman, dan etika berdakwah.

Karena itu, penguatan NU Online dan TVNU perlu disertai peningkatan kualitas produksi, distribusi lintas platform, literasi media, serta verifikasi informasi. Keberhasilan dakwah digital tidak cukup diukur melalui jumlah tayangan atau pengikut, tetapi juga kualitas pemahaman, tumbuhnya dialog, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial. Konten singkat semestinya mengantarkan audiens menuju pengetahuan yang lebih mendalam, bukan menggantikan proses belajar.

Yang tidak kalah penting, program-program PBNU tersebut harus ditarik hingga tingkat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Majelis Wakil Cabang (MWCNU), hingga Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU). Tanpa penerjemahan di tingkat lokal, gagasan strategis berisiko berhenti sebagai agenda pusat yang menarik di atas kertas, tetapi belum menyentuh kebutuhan riil generasi muda di akar rumput.

PCNU dapat berperan sebagai penggerak program melalui pemetaan potensi anak muda, kemitraan dengan perguruan tinggi, pelatihan keterampilan, serta pengembangan komunitas kreator digital. MWCNU dapat menghubungkan pesantren, madrasah, badan otonom, dan komunitas pemuda di tingkat kecamatan. Adapun PRNU menjadi ruang perjumpaan terdekat dengan kehidupan masyarakat: mengenali bakat remaja, mendampingi kegiatan kreatif, membuka forum diskusi, dan menghadirkan dakwah yang dekat dengan persoalan sehari-hari.

Pelaksanaannya tentu perlu menyesuaikan kondisi setiap daerah. Tidak semua ranting memiliki fasilitas digital atau sumber daya yang sama. Karena itu, PBNU dan PCNU perlu menyediakan panduan, pendampingan, pelatihan, serta akses kolaborasi agar program tidak menjadi beban administratif. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan generasi muda, bukan sekadar memenuhi laporan organisasi.

Merangkul Gen Z bukan pekerjaan satu bidang atau satu periode kepengurusan. Ini merupakan tanggung jawab kolektif untuk memastikan NU tetap menjadi rumah yang terbuka bagi generasi penerus. Anak muda membutuhkan organisasi yang bukan hanya mengajarkan nilai, tetapi juga membuka kesempatan; bukan hanya memberikan identitas, tetapi juga menumbuhkan kemampuan.

PBNU telah membuka jalan melalui sejumlah gagasan strategis pascapelantikan. Kini, tantangannya ialah memastikan gagasan tersebut bergerak dari pusat menuju cabang, kecamatan, dan ranting, lalu tumbuh menjadi kegiatan nyata yang berkelanjutan. Sebab, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh kuatnya tradisi yang diwariskan, tetapi juga oleh kemampuan organisasi menyiapkan ruang bagi generasi muda untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan mengabdi. Menjembatani tradisi NU dan dunia Gen Z, pada hakikatnya, adalah merawat kesinambungan perjuangan Nahdlatul Ulama.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *