
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd (Direktur Pascasarjana UIN Madura dan Fungsionaris NU Cabang Pamekasan).
Peristiwa Nuzulul Qur’an selalu diperingati setiap 17 Ramadhan. Namun, sering kali ia hanya dipahami sebagai momentum seremonial-pembacaan ayat suci, pengajian, dan refleksi spiritual sesaat. Padahal, turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad di Gua Hira bukan sekadar peristiwa religius, melainkan tonggak revolusi kesadaran manusia.
Wahyu pertama yang turun, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5, diawali dengan satu kata kunci: Iqra‘-bacalah. Suatu perintah yang sederhana, tetapi sarat makna. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu yang belum memiliki tradisi literasi yang kuat, perintah membaca merupakan langkah revolusioner. la pergeseran orientasi masyarakat dari budaya lisan menuju budaya ilmu.
Menurut M. Quraish Shihab, kata Iqra’tidak hanya berarti membaca teks tertulis, tetapi juga membaca realitas, membaca sejarah, membaca diri sendiri, dan membaca tanda-tanda zaman. Dengan kata lain, Islam sejak awal telah menempatkan kesadaran intelektual sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama bukan tentang ritual semata, melainkan tentang epistemologi-tentang bagaimana manusia memperoleh dan mengelola pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam berkembang pesat karena menjadikan ilmu sebagai arus utama. Tradisi penerjemahan, diskusi ilmiah, dan pengembangan ilmu pengetahuan tumbuh dari semangat Iqra‘. Semangat inilah yang melahirkan generasi cendekiawan serta pusat-pusat ilmu pengetahuan yang berpengaruh hingga lintas benua.
Pertanyaannya, bagaimana makna Nuzulul Qur’an kita hadirkan dalam kehidupan kekinian, terutama di era transformasi digital?
Hari ini, kita hidup dalam banjir informasi. Setiap detik jutaan data beredar melalui gawai di tangan kita. Media sosial menghadirkan kemudahan akses informasi, tetapi sekaligus menyimpan potensi disinformasi dan polarisasi. Ironisnya, semakin banyak informasi, semakin sering pula kita menyaksikan kesalahpahaman dan konflik akibat kurangnya literasi.
Didalamnya relevansi Iqra’menjadi sangat aktual. Membaca di era digital bukan sekadar menggulirkan layar (scrolling), melainkan kemampuan memilah, memverifikasi, dan memahami konteks. Literasi digital membutuhkan kedewasaan etika dan tanggung jawab moral. Tanpa nilai Al-Qur’an, teknologi bisa berubah menjadi alat penyebar kebencian dan manipulasi.
Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa pengetahuan harus disertai kesadaran spiritual. Kemajuan teknologi semestinya berjalan seiring dengan kematangan akhlak. Inilah pesan keseimbangan yang ditawarkan wahyu: antara rasionalitas dan moralitas, antara kecerdasan dan kebijaksanaan.
Dalam konteks pemikiran sosial Islam di Indonesia, gagasan ini selaras dengan konsep Ilmu Sosial Profetik yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo. la merumuskan tiga pilar utama dalam pembangunan masyarakat: humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (membebaskan dari ketertindasan), dan transendensi (menghubungkan kehidupan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan).
Konsep tersebut sebenarnya memiliki resonansi yang kuat dengan nilai-nilai yang dikembangkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Dalam berbagai forum organisasi, termasuk keputusan penting dalam Nahdlatul Ulama, dikenal konsep Mabadi Khairu Ummah-prinsip-prinsip dasar untuk membangun masyarakat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Prinsip ini menekankan beberapa nilai utama, antara lain: asy-shidq (kejujuran), al-amānah wal-wafa bil ‘ahd (amanah dan menepati janji), al-‘adalah (keadilan), at-ta’awun (kerja sama), serta al-istiqamah (konsistensi dalam kebaikan). Nilai-nilai tersebut bukan sekedar etika pribadi, tetapi landasan sosial untuk membangun masyarakat yang berkeadaban.
Jika kita hubungkan dengan gagasan Ilmu Sosial Profetik, maka nilai-nilai Mabadi Khairu Ummah dapat menjadi kerangka etis dalam menghadapi tantangan zaman digital. Humanisasi sejalan dengan nilai keadilan dan kemanusiaan dalam prinsip Nahdliyin. Liberasi berarti membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, dan manipulasi informasi. Sedangkan transendensi mengingatkan bahwa seluruh aktivitas sosial harus tetap terhubung dengan nilai ketuhanan.
Dalam konteks ruang digital, prinsip-prinsip ini menjadi sangat penting. Media sosial tidak seharusnya menjadi ruang pertikaian dan penyebaran hoaks, tetapi menjadi ruang ta’äwun, kerja sama dalam menyebarkan pengetahuan dan kebaikan. Informasi tidak boleh diperalat untuk propaganda kebencian, tetapi harus menjadi sarana edukasi dan pencerahan.
Revolusi kesadaran yang dimulai dari Gua Hira sejatinya adalah revolusi cara berpikir. Wahyu pertama tidak memerintahkan membangun kekuasaan, tetapi membangun kesadaran. la tidak dimulai dengan pedang, melainkan dengan pena dan pengetahuan.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, semangat Iqra‘juga berarti memperkuat budaya tabayyun-klarifikasi sebelum menyebarkan informasi. Kesadaran membaca secara utuh dan kritis menjadi benteng dari hoaks dan kebencianan kebencian, Jika setiap individu menghidupkan nilai ini, ruang digital dapat menjadi ladang peradaban, bukan arena pertikaian.
Nuzulul Qur’an juga mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran personal. Gua Hira adalah simbol kontemplasi-ruang sunyi tempat refleksi mendalam sebelum transformasi sosial terjadi. Di tengah hiruk pikuk dunia digital, kita pun memerlukan “Gua Hira” versi modern: waktu untuk merenung, mengevaluasi diri, dan menyelaraskan niat.
Akhirnya, peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar mengenang turunnya wahyu, tetapi menghidupkan kembali revolusi kesadaran itu dalam diri kita. Dari budaya instan menuju budaya literasi. Dari reaktif menuju reflektif. Dari sekadar pengguna teknologi menjadi penggerak peradaban.
Jika Iqra’benar-benar kita maknai sebagai gerakan membaca dan memahami dengan hati nurani, maka transformasi digital tidak akan menjauhkan kita dari nilai spiritual. Justru sebaliknya, ia menjadi sarana memperluas dakwah ilmu dan kebaikan.
Nuzulul Qur’an adalah panggilan abadi: membangun masyarakat berbasis ilmu (knowledge-based society) yang berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab. Sebab dari satu kata “Bacalah”, lahirlah peradaban besar. Dan dari satu kesadaran yang tercerahkan, perubahan dunia bisa dimulai kembali.
Sebagai akhir kalam, Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa revolusi terbesar bukanlah pada teknologi yang kita ciptakan, tetapi pada kesadaran yang kita bangun-karena darinya. Iqra‘yang dipahami dengan iman dan akal sehat, lahirnya peradaban yang berilmu, berakhlak, dan berdaya mengubah zaman.
No Comments