
PAMEKASAN – KH. Ali Said, Rais Syuriah Pengurus Ranting (PRNU) Palengaan Daja II, mengatakan bahwa setan lebih sulit menghasut ahli fikih daripada ahli ibadah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam ngaji _Ta’lim al-Muta’allim_ yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Palengaan Daja, Sabtu sore (04/07/2026) di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Taposan, Palengaan, Pamekasan.
Dalam rutinan yang dilakukan setiap bulan sekali tersebut, Kiai Said menjelaskan tentang sulitnya menghindari perkara haram di zaman sekarang.
“Sangat sulit menghindari perkara maksiat, terkadang tangan kita sudah berhasil menghindari, tapi kaki kita tidak; terkadang tangan dan kaki sudah berhasil menghindari, tapi lisan kita tidak,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Kiai Said juga membagikan tata cara menghindari maksiat. Ia menyebut niat merupakan cara paling dasar dalam menghindari maksiat
“Salah satu cara menghindari maksiat dimulai dari niat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis انما الاعمال بالنيات: ‘sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya’. Kita bisa berniat meninggalkan atau menghindari maksiat minimal dua kali dalam sehari, yaitu menjelang pagi dan menjelang malam”, jelasnya.
Dalam kajian yang berpangsung sekira satu jam tersebut Kiiai Said juga menjelaskan, setan lebih sulit menghasut satu ahli fikih untuk melakukan perkara haram daripada seribu orang yang ahli ibadah.
”Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits نوالعالم خير من عبادة الجاها: ‘tidurnya orang alim lebih utama daripada ibadah nya orang bodoh’. Sebab, terkadang orang bodoh melakukan ibadah hanya mengikuti arus saja, dalam artian dia melakukan ibadah bukan murni beribadah kepada Allah, tapi karena tidak enak kepada orang lain yang melakukan ibadah”, tutupnya.
Pewarta : Lutfia
Editor :Ahnu
No Comments