Merajut Sinergi, Menguatkan Gerakan Kemanusiaan

4 minutes reading
Thursday, 17 Sep 2026 03:21 0 54 Media NU Palengaan

Oleh: Ahmad Wiyono
(Wakil Sekretaris MWCNU Palengaan)

Untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan Bang Ali (Ali Zainal Abidin) dalam sebuah talk show di studio Media NU Palengaan. Sebelumnya, saya hanya mengenalnya melalui media sosial. Dari sana saya mengetahui berbagai aktivitas sosial yang dilakukannya bersama Bani Insan Peduli (BIP).

Namun, perjumpaan langsung selalu memiliki cerita yang berbeda. Dari percakapan di studio itu, saya menemukan bahwa gerakan sosial Bang Ali jauh lebih luas daripada yang selama ini tampak di layar media sosial.

Gerakannya tidak hanya berdenyut di Madura. Di sejumlah daerah lain di Indonesia, BIP juga hadir dengan perhatian yang sama: anak yatim dan kaum dhuafa.

Puluhan ribu anak yatim disebut telah menjadi bagian dari binaan gerakan tersebut. Beberapa rumah yatim juga telah didirikan. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah gagasan ekonominya.

Bang Ali mendirikan toko emas yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Madura. Yang membuatnya berbeda, keuntungan toko itu didedikasikan seratus persen untuk kepentingan anak yatim dan dhuafa.

Di titik ini, filantropi tidak lagi sekadar membagikan apa yang kita punya. Ia mulai menemukan bentuk baru: menciptakan sumber daya agar kebaikan dapat berlangsung terus-menerus.

Inilah yang membuat kedermawanan menjadi lebih substantif. Bantuan tidak berhenti pada paket sembako atau santunan sesaat, tetapi diupayakan menjadi sebuah ekosistem sosial yang berkelanjutan.

KH Said Aqil Siroj pernah mengingatkan bahwa salah satu agenda penting organisasi adalah memobilisasi zakat, infak, wakaf, dan hibah untuk kepentingan umat. Menurutnya, instrumen tersebut bahkan dapat menjadi kekuatan ekonomi umat.

Pandangan itu menemukan relevansinya dalam apa yang sedang dikerjakan BIP. Harta tidak semata-mata dipandang sebagai simbol keberhasilan pribadi, tetapi sebagai amanah yang harus memiliki manfaat sosial.

Kemarin, 12 September 2026, gagasan itu menemukan ruang perjumpaan dengan NU di Palengaan. BIP bersama MWCNU Palengaan menggelar sebuah event besar: Parade Budaya, santunan untuk anak yatim dan guru ngaji, serta makan gratis sebanyak 10.000 porsi.

Angka 10.000 tentu besar. Tetapi yang lebih penting dari angka itu adalah pesan di baliknya: bahwa kebaikan akan menjadi lebih kuat ketika dikerjakan bersama.

Ketua PCNU Pamekasan, KH Muhlis Nashir, yang juga hadir dalam talk show, menegaskan adanya kesamaan visi antara NU dan BIP. Karena itu, sinergi keduanya ke depan diharapkan tidak berhenti pada sebuah acara, tetapi diterjemahkan menjadi berbagai program nyata.

Bahkan, dalam sambutannya di Lapangan Garuda Palengaan, Bang Ali menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana tetapi terasa kuat: “Roh saya ada di NU.”

Kalimat itu menarik. Sebab, pada akhirnya, kerja sosial dan gerakan keagamaan memang tidak selalu harus dipertemukan oleh struktur organisasi. Ia bisa dipertemukan oleh nilai dan ruh yang sama.

NU sejak awal tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan. Ada tradisi panjang tentang kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, pendidikan, pesantren, dan pemberdayaan masyarakat.

KH Said Aqil juga pernah menegaskan bahwa Islam adalah agama sosial yang peduli kepada fakir miskin dan mengajarkan kebersamaan serta gotong royong.

Karena itu, perjumpaan BIP dengan NU di Palengaan sesungguhnya bukan sekadar perjumpaan dua lembaga. Ia adalah pertemuan dua energi kebaikan.

KH Misbahul Munir, Rois Syuriah MWCNU Palengaan, pada akhir talk show mengingatkan tentang keutamaan orang yang gemar bersedekah. Kedermawanan, dalam pandangan agama, bukan hanya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga menjadi jalan keberkahan bagi orang yang memberi.

Barangkali inilah pelajaran terpenting dari perjumpaan dengan Bang Ali: bahwa kekayaan yang paling bernilai bukanlah yang paling lama tersimpan, melainkan yang paling panjang manfaatnya.

Dan ketika kedermawanan BIP bertemu dengan tradisi pengabdian NU, semoga yang lahir bukan sekadar lebih banyak acara, tetapi lebih banyak anak yatim yang tertolong, lebih banyak dhuafa yang berdaya, lebih banyak guru ngaji yang dihargai, dan lebih banyak masyarakat yang merasakan manfaat.

Kehadiran Bang Ali di MWCNU Palengaan, akhirnya, bukan hanya menjadi sebuah perjumpaan. Ia seperti pintu yang terbuka menuju sebuah ikatan baru: ketika kebaikan menemukan rumahnya, dan rumah itu bernama sinergi.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *